PELEK DEMI KESELAMATAN

vleg_evorracingindonetworkcoid-editTENTUNYA Anda mahfum bahwa ban memiliki hopeng yang sangat dekat. Dia adalah pelek. Kedua produk ini ibarat dua sisi mata uang, tak terpisahkan. Itu sebabnya, para pengguna motor disarankan tidak sembarangan mengganti pelek.

Ahli setel pelek Teja Adipura mengatakan, penggantian pelek harus disesuaikan dengan kebutuhan pengendara. Pemilik Image Motor itu menambahkan, selama ini ada beberapa alasan yang membuat pemilik kendaraan mengganti pelek. Misalnya, untuk kebutuhan, gaya, atau semata-mata karena hobi. Padahal, seharusnya pergantian itu hanya dilakukan ketika pelek yang ada sudah tidak layak pakai atau tidak cocok dengan kondisi motor.

Sehingga, melalui penggantian pelek, si pengendara bisa mendapatkan kenyamanan saat memakai kendaraan. Teja bilang, banyak pemilik kendaraan sering memaksakan diri ketika mengganti pelek. Biasanya ini dilakukan hanya untuk bergaya atau menyalurkan hobi.

Tapi, akibatnya, motor menjadi tidak nyaman ketika dikendarai. Ketidaknyamanan itu lantaran poros ban dengan poros pelek tidak sesuai. “Jadi, kalau diputar gulirannya kelihatan tidak lurus. Ini membuat motor tak enak dipakai,” katanya.

Kepada para pemakai roda dua, Teja menyarankan agar selalu mengecek kondisi pelek. Biasanya, pengecekan dilakukan setiap kelipatan 10.000 kilometer. Banyaknya jalanan berlubang bisa membuat kondisi pelek berubah. Apalagi jika pengendara sering berjalan di jalanan berlubang.

Setelan pelek bisa bergeser karena getaran mesin yang terus menerus. Makanya, banyak pemilik kendaraan yang datang ke bengkel milik Teja untuk memperbaiki kondisi pelek motor yang mulai bergeser. “Bahkan, ada yang peleknya minta disetel ketika baru membeli sepeda motor,” katanya.

Bagi pengguna pelek jari-jari, Teja meminta mereka untuk rutin memperbaiki setelan. Agar mendapatkan setelan yang baik, tekanan tiap jari harus pas. Pada setiap pelek, jumlah jari-jari minimal 36. Apabila dimodifikasi harus kelipatan 9 biji.

Selama ini, konsumen lebih banyak memakai pelek jari-jari. Selain harganya lebih miring, perbaikan si jari-jari juga tak membutuhkan biaya besar.

Namun, hati-hati, jenis pelek ini juga tidak bebas masalah. Jika salah satu jarinya hilang atau keropos, pelek bisa ikut rusak. Apalagi saat musim hujan. Sebab air hujan bisa membuat korosi dan merontokkan jari-jari pelek. “Maka dari itu, pemilik motor harus rajin-rajin mencucinya,” kata Teja.

Berbeda dengan pelek jari-jari, penyetelan pelek racing jauh lebih sulit. Pasalnya, pelek jenis ini rata-rata terbuat dari campuran karbon, besi, dan aluminium yang lebih keras.

Jika tidak berhati-hati, penyetelan yang dilakukan bisa merusak kondisi pelek. Risikonya, pelek bisa patah atau jika rusak bisa sangat parah.

Pelek racing atau chassis wheel memang lebih kuat dan antikarat. Namun, pelek ini lebih cocok di medan aspal atau beton. Untuk jalanan mendaki atau di bebatuan terjal, risiko pelek patah lebih besar.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.